Congko Lokap, Upacara Bersih Rumah Adat di Manggarai NTT

Editor | Selasa, 14/Des/2021 14:17 WIB
Ritual upacara adat congko lokap di Kabupaten Manggarai Nusa Tenggara Timur.

*Oleh : Fransiskus Rivaldo Santoso

RKNMedia.com - Manggarai merupakan salah satu kabupaten di Provinsi Nusa Tenggara Timur yang kaya dengan tradisi lisan. Beberapa bentuk tradisi lisan dalam kebudayaan Manggarai antara lain congko lokap ( pembersihan rumah adat dari serpihan-serpihan dan kotoran-kotoran), nyanyian tradisional ( sanda, mbata, danding, rindo, landu), doa tradisonal (tudak), cerita rakyat (tombo atau ganda), dan teka-teki tradisonal (bundu).

Nyanyian tradisonal biasanya digunakan dalam upacara adat, semisal upacara kematian dan upacara syukuran. Selain itu, cerita rakyat dan teka-teki biasanya hadir dalam situasi santai dan senda gurau. Tujuannya adalah untuk mengisi waktu luang dan bersifat menghibur. Kemudian congko lokap dilaksanakan pada saat syukuran rumah adat.

Pengertian Congko Lokap

Congko lokap merupakan sebuah upacara adat berupa kegiatan pembersihan rumah adat dari segala kotoran agar rumah adat tersebut layak dihuni oleh manusia dan di dalamnya gantung gendang sebagai simbol kekuasaan atas tanah-tanah adat (ulayat). Upacara ini memiliki kesenian tersendiri, bukan dalam arti bahwa melebihi upacara adat lainnya. Namun seni ini memiliki keunikan yang berarti bahwa upacara ini bukan merupakan upacara tahunan seperti upacara adat lainnya.

Makna Congko Lokap

Congko Lokap Mbaru Tembong (CLMT) jika diadaptasikan ke dalam bahasa Indonesia, maka kurang lebih maknanya menjadi seperti berikut;  congko ‘angkat’, lokap ‘bilahan/serpihan kayu atau sisa-sia kayu’, mbaru ‘rumah’, dan tembong ‘gendang’. Dengan perkataan lain, CLMT merupakan aktivitas membersihkan rumah gendang atau rumah adat dari sisa-sisa atau serpihan kayu yang digunakan sebagai bahan bangunan.

Aktivitas ini dilakukan bukan dalam pengertian harfiah, melainkan dalam bentuk upacara adat dengan mengurbankan beberapa jenis hewanpeliharaan seperti kerbau, kuda, ayam, dan babi, dengan ktiteria yang tidak asal-asalan, seperti warna, jenis kelamin, usia yang terlebih dahulu didoakan secara tradisonal.

Tujuan dari upacara ini adalah melayakkan, meresmikan, dan memberikan ucapan syukur atas berdirinya rumah adat sekaligus mengundang leluhur yang dipercaya sebagai representasi dari Tuhan untuk tinggal bersama-sama di rumah adat. Ritual CLMT terbentuk dari beberapa tahapan, meliputi tahap persiapan, tahap pelaksanaan,dan tahap penutup atau akhir.

Tahap persiapan terdiri atas:

1).Siro Wa’u, yakni undangan atau pemberitahuan kepada seluruh keluarga atau masyarakat kampung, dan

2).Nempung, yakni musyawarah untuk menentukan dan mempersiapkan alat dan bahan yang akan digunakan dalam ritual, serta waktu pelaksanaannya.

Tahap pelaksanaan, terdiri atas:

1). Dondor, yaitu ritual yang dilakukan seminggu sebelum hari inti upacara CLMT yang bertujuan membuang (mengusir/ membersihkan) segala perbuatan buruk atau sikap yang sering kali merugikan orang lain.

 2). Wisi Loce, yakni ritual bentang tikar yang dilakukan tiga hari sebelum upacara inti dilaksanakan. Tujuannya adalah membuka seluruh rangkaian upacara dan menyediakan tempat bagi tamu, arwah, nenek moyang, Tuhan Yang Maha Kuasa yang akan mengikuti upacara CLMT.

3). BarongWae dan Barong Boa, yaitu undangan bagi para leluhur yang menjaga air minum (mata air) dan roh-roh leluhur di kuburan. Dalam perjalanan menuju kuburan, para tetua adat biasanya menyanyi sembari menabuh gong dan gendang;

4). Sa’e Kaba, yaitu ritual penyembelihan kerbau sebagai kurban. Kerbau yang dijadikan kurban merupakan kerbau pilihan, berwarna putih dan/atau coklat serta belum kawin. Selain kerbau, ayam jantan putih dan babi hitam juga dijadikan kurban dalam ritual sa’e kaba.

5). Barong Compang, yakni syukuran yang dilakukan di mesbah (tempat khusus yang terbentuk dari susunan beberapa bongkah batu yang berbentuk bulat, setinggi kurang lebih satu meter dan diletakkan salib di bagian tengahnya). Di compang inilah beberapa hewan kurban disembelih. Selain hewan kurban, buah sirih-pinang juga ditaruh di compang;

6). Caci, yaitu tarian adat yang dimainkan oleh kaum laki-laki, satu lawan satu, mencambuk secara bergantian, posisi bagian tubuh atas tidak berbusana, menggunakan pelindung mata dan kepala, dan mengenakan songke dan celana putih pada bagian tubuh bawah.

Tahap akhir dari upacara CLMT

Tahap akhir dari acara ini adalah adak wajo ela (membunuh seekor babi sebagai lambang telah selesainya pembagian daging kepada pihak-pihak yang berhak mendapatkannya). Jadi, tahap akhir dari upacara CLMT adalah pembagian daging kurban. Selain daging kurban, beras yang ditaruh dalam luni (wadah untuk menyimpan beras yang terbuat dari daun pandan hutan).

Tudak Dalam Acara Congko Lokap

Tudak (doa) dalam upacara CLMT Tudak adalah bentuk doa tradisional yang dibawakan ketika melaksanakan ritual adat dalam kebudayaan Manggarai. Tudak berbeda dengan mantra. Dikatakan demikian karena mantra selalu dihubungkan dengan kekuatan gaib. Sementara itu, tudak merupakan doa yang ditujukan kepada Tuhan.

Di dalam tudak juga disebutkan empo (leluhur) karena keyakinan orang Manggarai bahwa leluhur merupakan representasi (perwakilan) kehadiran Tuhan di dunia. Tudak dalam upacara CLMT merupakan tuturan prolog (tuturan searah), juga dialog (tuturan dua arah) yang biasanya diucapkan oleh tua adat serta dijawab oleh orang lain. Bentuk tuturan yang dipakai biasanya tidak bersifat mutlak (konsisten), tetapi ada ungkapan-ungkapan paten yang selalu hadir dalam setiap tudak.

Ungkapan-ungkapan paten yang dimaksud di sini adalah bentuk ungkapan yang meskipun diucapkan oleh tua adat yang berbeda, ungkapan itu tetap dibawakan dalam bentuk yang sama, dengan konstruksi kalimat yang sama, bahkan dengan intonasi yang sama pula.

TUDAK CONGKO LOKAP

Denge le Hau Mori’n agu meu empo tana golo. Ho’o’k de leso kudut congko’sde lokap, roi’s de weang, congko’s rop. Pate agu salang’n dami neki weki manga ranga,reje lele bantang cama, padir wa’i rentu sa’i gula ho’o, kudut baro kamping Mori’n aguNgara’n, latang sangget taung sala agu gauk dami lawang ho’o, ai ami kudut pande ramengasang congko lokap mbaru tembong.

Gula ho’o lami kudut oke taung’s gauk agu gejurdami. Hitu le’y de kaba congko lokap, roi weang, congko’s rop.Sangget taung ata da’at de nipi, porong nggoling one toni’s, nggolong onegong, porong one wae’s lau’d, one leso’s sale’d. Sangget ata dia’d kali nagsang nipiporong ndeng keta lobo bekek, eko lobo toni.

Tegi dami, porong teing ranga gerak nakaka’eng mbaru weru.Sua laing du’ang kole tegi dami Mori, porong ami kali ga rentus sa’i cama- cama rame’n naka kaeng mbaru weru, tadang koes one mai ami sangget taung gauk da’atdata.

Porong ami kali ga nai ngalis tuka ngengga, porong toing le toming, tae le pande,porong uwa haeng wulang langkas haeng ntala, porong neka ringing ti’is neka nepoleso, porong neka toko’s ponggo, neka hema’s rempa, kudut anggom sanggen taung ataone beo ho’o.

Hitu le’y de kaba’n tong ga, kudut tegi pati’n nai ngalis tuka ngengga de meuempo, te wali kamping Mori Jari te leleng kamping Mori Dedek, toe ma banan, ho’o’ytombo one lonto, curup one lutur, kapu agu naka cama laing congko lokap.

Toe pinga litesina, toe senget lite le, hitu’y kaba, hitu’s torok, torok toe kop, hitu’s pau, pau toe patut,toe pinga sina, toe senget le, hitu’y kaba, hitu’y ela congko lokap, o....... te poka’y bokaktong kaba, ba dise anak, wan koe etan tua, niang’n one, lingko’n pe’ang, pa’ang’n lengaung’n lau, anak wina anak rona.

Porong neka manga de ngasang nangki kole tai, itang kole diang, porong oneniang ho’o’y de kali tala’d ngasang wancang, wae bate teku, uma bate duat, natas batelabar. Ho’o’y cepa, hitu olo kaba agau ela, wau sangge’s meu empo.

Goet dalam tudak Congko Lokap

Go’et dalam tudak CLMT berfungsi untuk memohon kesehatan dan umur panjang, mengungkapkan hubungan (pertalian) kekeluargaan, menggambarkan keyakinan orang manggarai akan adanya wujud tertinggi yang menguasai alam semesta, menjelasakan kepada masyarakat mengenai etika dan etiket dalam kehidupan bermasyarakat, mengajak dan menciptakan kerukunan atau kebersamaan, menjadi insan yang rajin dan bertanggung jawab dalam memimpin, mengajarkan keikhlasan atau ketulusan hati dan mengutamakan musyawarah dan mufakat dalam menyelesaikan persoalan.

Berdasarkan uraian-uraian diatas maka dapat disimpulkan bahwa congko lokap mbaru tembong merupakan aktivitas budaya dalam kebudayaan Manggarai yang dilakukan secara turun- temurun dengan tujuan untuk melayakkan, meresmikan, dan memberikan ucapan syukur atas berdirinya rumah adat baru. Goet yang terdapat dalam upacara congko lokap Mbaru Tembong berdasarkan tudak (doa persembahan) berfungsi untuk memohon kesehatan , mengungkapkan hubungan kekeluargaan dan musyawarah untuk mencapai mufakat, mendidik, menggambarkan keyakinan kepada Tuhan, mengajarkan keikhlasan dan membuang segala hal-hal yang buruk.***

*Penulis adalah mahasiswa program studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia di Unika St. Paulus Ruteng NTT



TAGS : congko lokap kabupaten manggarai ntt upacara adat tudak

Baca Juga :

Related Post