Perekat Nusantara Beberkan Tujuh Fakta Kebohongan dan Ujaran Kebencian Rocky Gerung Dkk

Editor | Kamis, 02/Des/2021 18:40 WIB
Rocky Gerung dkk dipolisikan Perekat Nusantara gegara ujaran kebencian.

RKNMedia.com - Perekat Nusantara (Pergerakan Advokat Nusantara) mengungkap tujuh fakta kebohongan Rocky Gerung, Adhie Massardi, Refly Harun dan Natalius Pigai terhadap publik.

Di antaranya adalah pernyataan mereka yang mengandung ujaran kebencian dan mengadu domba serta berpotensi menimbulkan rasa kebencian antar individu dan kelompok (SARA).

Advokat yang tergabung dalam Perekat Nusantara, yakni Petrus Selestinus, Mansur Arsyad, Carel Ticualu, Daniel T. Masiku, Peter Singkali, Thomas Berdy Dewa, Ando, Frans R. Delong.

“Perekat Nusantara, meminta agar Polri memanggil sejumlah orang tertentu dalam tahap Penyelidikan untuk memastikan apakah benar telah terjadi peristiwa pidana, dan jika benar siapa-siapa saja yang dapat dimintai pertangungjawaban pidana,” ujar Petrus Selestinus pada Kamis, 2 Desember 2021.

Terbongkarnya kebohongan itu berawal dari wawancara Hersubeno Arief dengan Rocky Gerung di Channel YouTube Rocky Gerung Official yang diunggah pada 23 November 2021.

Wawancara berjudul “Campur Tangan Urusan MUI, Romo Benny Harus Mundur atau Dipecat dari BPIP”, mendadak viral dan berdampak pada munculnya reaksi yang mengarah kepada SARA.

Petrus Selestinus mengatakan penilaian Hersubeno Arief dan Rocky Gerung tentang Romo Benny Susetyo, dilakukan secara berlebihan melampaui fakta-fakta. Bahkan mereka menutup-nutupi fakta-fakta yang sebenarnya dan memunculkan sesuatu yang tidak pernah diucapkan oleh Romo Benny Susetyo. Mereka juga mengeksploitasi sedemikian rupa sehingga seolah-olah Romo Benny Susetyo meminta MUI dibubarkan.

Sementara sumber penilaian Hersubeno Arief dan Rocky Gerung adalah video YouTube RKN Media tanggal 20 November 2021, berjudul “MUI Harus Berbenah, Jangan jadi Sarang Kelompok Radikal” yang diretwit ke twitter Romo Benny Susetyo, berisi wawancara dengan Hendardi, Ketua Setara Institute terkait penangkapan terduga teroris anggota MUI Farid Okbah oleh Densus 88.

Perekat Nusantara mencatat ada tujuh fakta yang membuktikan bahwa pernyataan Harsubeno Arief, Rocky Gerung, Adhie M. Massardi, Refly Harun dan Natalius Pigai, berisi pernyataan bohong yang mengandung ujaran kebencian dan bersifat mengadu domba serta berpotensi menimbulkan rasa kebencian antar individu dan kelompok (SARA). Berikut pernyataan pers Perekat Nusantara mengenai tujuh fakta kebohongan Rocky Gerung dkk :

  1. Tidak ada narasi, wajah dan nama Romo Benny Susetyo di dalam wawancara Video YouTube RKN Media dengan Hendardi pada tanggal 20 November 2021, yang menjadi sumber penilaian.
  2. Tidak ada satu pun pernyataan Romo Benny Susetyo, baik di dalam YouTube maupun dalam pemberitaan media online yang meminta MUI dibubarkan, atau dikoreksi dll. terkait peristiwa penangkapan oleh Densus 88 terhadap beberapa orang terduga/tersangka pelaku dugaan terorisme pada tanggal 18 November 2021.
  3. Tidak ada klarifikasi dari Harsubeno Arif, Rocky Gerung, Refly Harun maupun Natalius Pigai terkait dengan tuduhan bahwa Romo Benny Susetyo telah membuat pernyataan meminta MUI dibubarkan, dikoreksi atau MUI jangan jadi sarang teroris dan semacam lainnya.
  4. Dalam wawancara Romo Benny Susetyo dengan Media Online Republika.id dll pada tanggal 21 November 2021, Romo Benny Susetyo justru menegaskan bahwa negara ini butuh MUI, karena MUI selama ini aktif mengatasi radikalisme, MUI telah mengawal dan menjaga keutuhan bangsa Indonesia dstnya.
  5. Terkait penangkapan beberapa terduga teroris pada tanggal 18 November 2021, Romo Benny Susetyo menegaskan bahwa peristiwa penangkapan beberapa terduga teroris jangan lantas dikaitkan sebagai perbuatan organisasi, tetapi perbuatan oknum, jangan beri respons berlebihan dan MUI tidak bisa dibubarkan.
  6. Banyak pernyataan Rocky Gerung dkk. yang negatif telah melahirkan reaksi negatif yang menyudutkan Romo Benny Susetyo dengan melihat Romo Benny Susetyo dari agama berbeda (Katolik) lalu menghubung-hubungkan dengan keberadaan Romo Benny Susetyo di KWI, BPPI, BRIN dll, bahkan dikaitkan dengan PGI mengarah kepada SARA.
  7. Hingga saat ini tidak ada klarifikasi dari Harsubeno Arif, Rocky Gerung, Adhie Masardi, Refly Harun dan Natalius Pigai dan kawan-kawan kepada Romo Benny, RKN maupun Hendardi.

 

Di dalam KUHAP dikatakan bahwa LAPORAN adalah: "Pemberitahuan yang disampaikan oleh seseorang karena hak atau kewajiban undang-undang kepada pejabat yang berwenang tentang telah, atau sedang atau diduga akan terjadinya peristiwa pidana (pasal 1 angka 24 KUHAP)".

Ke 7 (tujuh) fakta dimaksud mengungkap serangkaian Peristiwa yang patut diduga sebagai Tindak Pidana sebagaimana dimaksud dalam pasal 14 UU No. 1 Tahun 1946 Tentang Peraturan Hukum Pidana jo. pasal 28 ayat (2) dan pasal 45A ayat (2) UU No.19 Tahun 2016 Tentang ITE.

Oleh karena itu, PEREKAT NUSANTARA karena hak atau kewajibannya menurut UU dan atas nama "Kepentingan Umum" telah membuat Laporan Polisi ke Polda Metro Jaya, No.LP/B/6013/XII/2021/SPKT/ POLDA METRO JAYA, tanggal 1/12/2021.

PEREKAT NUSANTARA meminta POLRI, melakukan tindakan kepolisian terhadap sejumlah orang untuk memastikan apakah benar telah, sedang atau akan terjadi suatu Peristiwa Pidana dan jika benar, siapa-siapa saja sebagai pelaku dugaan tindak pidana penyebaran berita bohong, ujaran kebencian, mengadu domba antar individu dan golongan yang bersifat SARA.

Untuk itu, PEREKAT NUSANTARA meminta agar Penyelidik Polda Metro Jaya segera memanggil sejumlah orang untuk didengar keterangannya, mereka antara lain Hersubeno Arief, Rocky Gerung, Refly Harun, Adhie M. Massardi, Natalius Pigai dkk. dalam tempo sesingkat-singkatnya guna dimintai pertanggungjawaban pidana.***



TAGS : perekat nusantara hoax petrus selestinus pergerakan advokat nusantara romo benny rocky gerung polda metro jaya

Baca Juga :

Related Post