Peneliti Indonesian Institute: Implementasi Program Guru Penggerak Perlu Ditingkatkan

Editor | Kamis, 04/Nov/2021 17:08 WIB
Program Guru Penggerak.

RKNMedia.com - Masih buruknya kualitas pendidikan di Indonesia saat ini dipengaruhi oleh berbagai faktor. Salah satu faktor dominannya yakni kualitas guru. Program Guru Penggerak (PGP) merupakan salah satu kebijakan yang dikeluarkan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi  (Kemendikbud-Ristek) sejak tahun 2020. Hingga akhir tahun 2021 ini, sudah ada sekitar 24.400 guru yang tergabung dalam PGP. 

Peneliti Bidang Sosial The Indonesian Institute, Nisaaul Muthiah, mengapresiasi langkah Kemendikbud-Ristek dalam upaya perbaikan kualitas guru tersebut. Lebih lanjut, Nisaaul dalam kajian akhir tahun The Indonesian Institute, Center for Public Policy Research (TII), yang berjudul “Evaluasi Program Guru Penggerak”, menyampaikan beberapa catatan baik dan catatan yang ditujukan untuk perbaikan PGP dan perbaikan kualitas guru secara keseluruhan.

Hasil analisis Nisaaul dalam studi tersebut menunjukkan bahwa PGP menjadikan guru memiliki paradigma yang memerdekakan anak dalam proses belajar. Namun, PGP saat ini baru menjangkau sekitar satu persen dari total guru di Indonesia. 

Jumlah tersebut masih terlalu kecil untuk menghasilkan perubahan yang besar. PGP juga belum menjangkau separuh dari total daerah di Indonesia.

“Kemendikbud-Ristek menargetkan pada tahun 2024 akan terdapat 405.000 guru yang tergabung dalam PGP. Namun, jumlah tersebut juga masih tergolong kecil jika dibandingkan dengan jumlah keseluruhan guru. 405.000 guru artinya masih sekitar enam belas persen dari total guru yang mendapat kesempatan untuk mengikuti program tersebut di tahun 2024.” ujar Nisaaul. 

Selain itu, Nisaaul menyatakan bahwa PGP tidak dapat dijangkau oleh guru yang memiliki keterbatasan gawai dan internet. PGP juga tidak menyediakan ruang bagi guru yang memiliki latar belakang pendidikan di bawah D4/S1 untuk turut memperbaiki kualitas. 

PGP juga belum menyinggung mengenai penguasaan guru terhadap materi yang mereka ajarkan dan aspek kesetaraan gender bagi murid-murid di kelas. Padahal, kedua hal tersebut masih menjadi permasalahan dalam proses pembelajaran. 

“Di tahun pelajaran 2020/2021, masih terdapat sekitar 105.876 guru yang memiliki latar belakang pendidikan di bawah S1. Mayoritas guru dengan kualifikasi tersebut berada di jenjang Sekolah Dasar (SD) dan Pendidikan Luar Biasa (PLB). Padahal, dalam Undang-Undang (UU) Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen dalam Pasal 9 mengamanatkan setiap guru wajib memperoleh kualifikasi akademik minimal S1/D4. Oleh karena itu, Kemendikbud-Ristek perlu memerhatikan peningkatan kualitas guru yang masih memiliki kualifikasi pendidikan di bawah S1/D4. Misalnya, dengan membuka ruang bagi mereka untuk dapat mengikuti PGP, atau dengan kebijakan lainnya, karena saat ini PGP hanya dapat diikuti oleh guru yang memiliki pendidikan minimal S1/D4.” Papar Nisaaul. 

Nisaaul juga menyoroti perlunya PGP untuk memerhatikan penguasaan guru pada materi yang mereka ajarkan. Hasil studi program _Research on Improving Education Systems_ (RISE) menunjukkan bahwa pada jenjang sekolah dasar, hanya 12,43 persen guru sekolah dasar (dari 360 guru) yang menganggap dirinya menguasai materi pengajaran literasi baca tulis dan 21,27 persen yang menganggap dirinya menguasai materi pengajaran matematika. 

Nisaaul mengatakan PGP perlu menyinggung persoalan penguasaan materi pembelajaran yang masih di hadapi oleh guru saat ini, karena hal tesebut masih menjadi salah satu persoalan yang dihadapi oleh guru. 

Cakupan implementasi PGP juga harus diperluas ke semua daerah di Indonesia. Kemendikbud-Ristek perlu bekerja sama dengan Kementerian Komunikasi dan Informatika, serta sektor swasta, untuk memperbaiki akses internet di daerah-daerah yang masih memiliki keterbatasan akses internet. 

Langkah ini diperlukan agar semua guru memiliki kesempatan untuk mengikuti PGP. Selain itu, praktik baik dari PGP juga perlu untuk diterapkan dalam Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan  (LPTK), agar proses perbaikan guru berjalan lebih menyeluruh.***



TAGS : Program Guru Penggerak The Indonesian Institute Nisaaul Muthiah Kemendikbud Ristek

Baca Juga :

Related Post