Hantu Kaum Orbanis dan Cara Menumpas Setanismenya

Editor | Selasa, 28/Sep/2021 17:35 WIB
Soekarno dan Soeharto merupakan simbol era Orde Lama dan Orde Baru.

Oleh: Eduard Lemanto

Sabda Sukarno telah menjadi daging. Prediksinya tak meleset, bilang; “Perjuanganku lebih mudah karena melawan penjajah. Tapi perjuangan kalian akan lebih berat, karena melawan saudara sendiri.” Dua dekade pasca-Reformasi Indonesia terus ditabrak politik subversif; upaya-upaya pengeroposan kekuasaan sah dari dalam oleh anak bangsa sendiri dengan tuduhan-tuduhan serius namun dangkal. Negeri ini terus diporak-poranda oleh hantu-hantu palsu bikinan mereka. Hantu komunisme paling laku. Diagnosa atas berbagai gejolak sosio-politik yang terus menghantam harus dimulai dari tiga pertanyaan kunci. Apa yang sesungguhnya terjadi? Siapa sesungguhnya anak-anak bangsa, desainer kekacauan sosio-politik? Mengapa mereka tak henti-hentinya mengombang-ambing negeri ini?

Setanisme Kaum Orbanis

Harus diakui, Reformasi kita berjalan lunglai dan loyo. Suharto memang dihempas. Namun, generasi ideologis-politis dan biologisnya tetap meraksasa dan tak kalah beringas. The smiling general memang memang bertahta dalam liang kubur. Namun, “para murid dan anak-anak jebolannya” terus bersikukuh mempraktekkan metode dan sistem kediktatoran sarat KKN itu. Mereka inilah yang saya sebut sebagai Kaum Orbanis (KO), klub elit yang terbentuk dari kaum ideologis (agama), ekonomi (bisnis), militer (militer-politis) dan politik (parpol), baik yang ada di luar maupun yang “tersembunyi” di dalam istana. Mereka penikmat enaknya sistem Orba yang sarat back door deals; kesepakatan di belakang pintu atau pintu dapur. Mereka eksklusif dan tertutup. Transparansi, pintu utama demokrasi, bagai hantu pengganggu bagi mereka. Ini lingkaran parasit pemerah negara.

Mereka telah membentuk imperium, berkekuatan nasional dan transnasional. Mengusik tidur nyenyak mereka berarti chaos-kekacauan dan turbulensi-keolengan negara. Mereka eksplosif manakala negara tidak menuruti kehendak mereka. Karenanya, dipimpin oleh seorang “presiden malaikat” sekalipun, Indonesia akan terus bergejolak jika mengusik mereka. Selalu ada hantu kuat bikinan mereka yang membuat ruang publik kucar-kacir. Mereka pencipta badai politik yang menghantam negeri hingga keok. Presiden yang patuh pada hasrat KO akan duduk tenang di kursi kekuasaan. Yang mengusik mereka akan terus digoyang. Anda dan saya bisa memeriksa; presiden mana saja yang terus dirintang karena operasi “Hantu Kaum Orbanis” itu. Badai sosio-politik yang menghempas Jokowi bisa dilacak dari sana. Bagaimana?

Skema Penghancuran Negara

Skema pembantingan, penggilasan dan pengrusakan negara, KO menggunakan metode politik devide et impera; politik pecah belah guna mempertahankan diri. Kini, jalan terbaiknya adalah penciptaan politik rasial guna melahirkan kecemasan sosial (social consternation). Agama adalah alat terbaik untuk itu. Sebab, ia mudah disetir. Kita pun bisa periksa, kolonisasi warga (seperti: nasionalis-agamis, kadrun-pancasilais, dan seterusnya) sebagian besar adalah ciptaan dan operasi mereka. Dikotomi semacam itu memang tampak nyata, namu sebagian besar ilusi. Yang riil adalah KO konsisten melawan negara.

Metode proteksi diri KO terhadap tekanan negara adalah dengan membangun bisnis massa, tepatnya penciptaan kediktatoran massa (mass dictatorship), dengan memanfaatkan ruang kekebasan berpendapat dan berkumpul. Kediktatoran massa itu hanyalah instrumen atau mantel penutup kediktatoran mereka sendiri. Jika kita telusuri berbagai demonstrasi beberapa tahun belakangan, “tirani mayoritas” yang tampak dalam aksi-aksi jalanan itu sengaja diciptakan untuk menekan pemerintah sekaligus menutupi tubuh “tirani minoritas” mereka sendiri. Operator lapangannya, KO memanfaatkan kelas menengah yang kalah dalam kontestasi. Sementara di level akar rumput, KO hanya punya peluang untuk menggunakan sentimen agama dengan memanfaatkan kelompok “proletariat agamis”. Mereka ini mirip jerami kering. Mereka mudah terbakar. Bisa dibilang, mereka ini adalah warga agamis buruh politik. Bagaimana agama di mata KO?

Agama: Peternakan Politik

Coba amati berbagai gerakan massa. Apapun isunya, gagasan-gagasan agamis-religius nyaris selalu dipakai sebagai tonggak gerakan. KO pura-pura jatuh cinta dengan agama dan kaum agamis, mirip strategi yang pernah dipakai Suharto 4 tahun sebelum kejatuhannya. Ia merangkul golongan agamis (baca: Islam) guna mengais dukungan politik. Itu hanyalah “cinta monyet”. Cinta penuh kemunafikan dan sekedar saling memanfaatkan. Di sana hanya terjadi pertukaran kepentingan kekuasaan dan ekonomi di antara elit ekonomi-politik KO dengan elit-elit agama. Untuk pelestarian “hubungan terlarang” itu, masing-masing elit memanfaatkan warga. Namun, warga di mata mereka bukanlah citizen (warga negara), pun congregations (umat), tetapi political cattle (ternak politis). Sebab, mereka sekedar dimanfaatkan sebagai gerombolan jalanan, misalkan dalam demonstrasi, yang berguna untuk menekan pemerintah. Metode ini terus menguat sepanjang era pasca Reformasi.

Strategi “peternakan politik” lewat jalur agama ini sangat berbahaya. Ia sangat laku di pasaran politik, namun bayarannya mahal bagi bangsa ini. Harus dicamkan bahwa agama itu merupakan death zone - zona kematian - jika dipakai sebagai lokomotif politik. Agama hanya akan menjadi korban terburuk dari permainan politik KO. Agama dikadali hingga menyerupai rongsokan. Perlahan agama menjadi objek ejekan di ruang publik. Di level nasional, korban dari strategi politik ini adalah Islam sebagai agama mayoritas. Agama-agama lain pun bernasib sama. Jika kita menarik strategi ini ke politik kedaerahan, maka semua agama menjadi korban. Yang perlu dicatat adalah Indonesia merupakan negara kepulauan. Secara politik rasial, jika strategi politisasi agama dijalankan di setiap daerah, semua agama berpeluang menjadi mayoritas.

Coba anda bayangkan akibat buruk dari lanskap politik semacam itu. Ada dua kemungkinan terburuk yang akan terjadi. Pertama, lanskap politik KO yang terus menerus memakai strategi politik rasial segera menghasilkan sentimen-sentimen kedaerahan. Bangsa ini bersiap-siap memetik hasil buruk yakni kolonisasi wilayah kepulauan berdasarkan agama. Akibatnya, kedua, setiap daerah berpeluang besar menjadi pusat-pusat konflik politik karena agama. Hasilnya, setiap daerah menjadi pusat-pusat ancaman bagi integrasi negara.

Alhasil, institusi agama mengalami kerusakan berat. Cinta monyet politik KO dengan agama membuahkan dekadensi moral. Strategi sakralisasi (penyucian) dan purifikasi (pembersihan) politik bertopeng visi-misi religius segera menjadi arus balik deras yang menghantam elit agamis hingga menjadi sangat hedonis. Mereka diseret masuk ke gaya hidup bohemian; penikmat dunia model, bergaya selebritas, bebas tanpa terikat batasan-batasan sebagai pemuka agama. Agama jeblok ke desakralisasi (pengotoran). Agama dipakai sebagai sebuah alat pengubah gaya hidup. Kelakuan elit-elit agama terseret mengikuti gaya hidup borjuasi dan politis KO. Buntutnya, agama yang seharusnya menjadi ruang dedikasi para pemukanya menjadi insitusi pencetak the white collars; orang-orang gajian yang mengais rejeki.

Kaum berjubah berubah menjadi the white collar preachers; para pengkotbah yang hidup dari menjual ayat-ayat suci di ruang publik. Mereka tidak bersabda, tetapi berkampanye. Mereka berubah menjadi bodyguard bagi KO. Buku-buku suci dipelintir menjadi buku-buku politik. Agama terseret (tak jarang pula menyeretkan diri) ke dalam pusaran perubahan (politik) yang nikmat itu. Dekadensi moral dalam institusi agama dimulai dari situ. Kondisi itu membawa mereka pada sebuah perjumpaan strategis, yakni bagaimana berkolaborasi menjaga kelestarian kekuasaan. KO berkepentingan untuk pelestarian kekuasaan. Sementara “kaum agamis” berkepentingan menjaga pelestarian pengakuan dan kekuasaan atas umat. Kesamaan orientasi itu membawa mereka pada perkawinan semu dan saling mengeksploitasi, tanpa memikirkan ekses super buruknya pada lingkup negara dan relasi sosial. Lalu, bagaimana?

Bongkar dan Tumpas!

Negara sesungguhnya memiliki jalan terbaik menghadapi situasi ini. Rumusnya, transparansi total. Sudah saatnya negara membongkar total muatan hantu-hantu buatan Kaum Orbanis. Hantu sesungguhnya adalah mereka. Hantu komunisme dan sejenisnya adalah ilusi. Hantu intoleransi dan hantu tirani mayoritas penuh kepalsuan. Semua itu adalah sihir-sihir politis ciptaan KO. Semuanya dibangun guna menggilas kekuasaan sah negara, apalagi pemerintah yang berjalan lurus dan tegak bagi kepentingan negara. Negara tak boleh ragu lagi menyatakan selugas-lugasnya bahwa hantu KO adalah duri-duri besi masa lalu yang masih kuat dan terus hidup. Publik harus mendapat keterangan yang sejelas-jelasnya mengenai sebab musabab dan apa yang sesungguhnya terjadi di balik ombang-ambing sosio-politik selepas otoritarianisme Orba. Ini cara menumpas terbaik dan beradab, bukan dengan senjata versi Orba. Hanya itu jalan tunggal agar negeri ini lekas berjalan ke masa depan. Jika tidak, Indonesia akan terus digerogoti oleh hantu nyata masa lalunya itu, yakni hantu Kaum Orbanis. Warga kini bukan lagi warga buta huruf. Bongkar! Gebrak!

 

Edu Lemanto merupakan Candidate PhD di PFUR-Moscow, Russia.



TAGS : orba orde baru edu lemanto komunisme kaum orbanis soekarno soeharto hantu

Baca Juga :

Related Post