Proyek Persemaian Modern di Manggarai Barat NTT Tuai Protes Warga Karena Babat Hutan Lindung, Pengelola Berikan Alasannya

Editor | Selasa, 31/Agu/2021 13:47 WIB
Proyek Persemaian Modern di Manggarai Barat NTT yang diprotes warga karena merusak lingkungan,

RKNMedia.com - Proyek persemaian benih di atas lahan 30 hektar dalam hutan lindung Bowosie, Satar Kodi, daerah Sano Nggoang, Manggarai Barat oleh Kementerian Kehutanan dan Lingkungan Hidup menuai kecaman dari warga sekitar. 

Warga menuding pembukaan proyek persemaian tersebut dilakukan dengan membabat pohon-pohon di kawasan hutan lindung berisi aneka pohon endemik Flores berusia tua.

Protes keberatan warga berkaitan pada pertimbangan keselamatan ekologis, dimana hutan yang dibabat merupakan wilayah sumber mata air untuk kebutuhan kota Pariwisata Premium Labuan Bajo.

Menanggapi keberatan warga, Kepala Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) Kabupaten Manggarai Barat, Stefanus Nali, membantah tudingan pembabatan hutan di kawasan tersebut.

“Itu bukan perambahan, tapi bagian dari pengelolaan hutan. Kita memanfaatkan kawasan itu untuk rehabilitasi lahan kritis yang ada di Manggarai Barat khususnya dan daratan Flores pada umumnya," kata Stefanus kepada RKNMedia beberapa hari lalu.

Menurut Stefanus, lahan tersebut sudah sejak lama direncanakan sebagai tempat persemaian modern. Proyek ini merupakan bagian dari upaya untuk pengembangan pariwisata. Selain itu dengan adanya proyek ini nantinya tempat itu menjadi tempat sumber benih persemaian untuk proses rehabilitas selanjutnya di wilayah tersebut.

“Lahan itu sejak lama sudah direncanakan sebagai tempat persemaian modern. Permintaan benih persemaian modern banyak tapi persediaan kami sangat terbatas. Mungkin dengan adanya persemaian modern ini kebutuhan masyarakat kapan saja bisa terpenuhi,” kata Stefanus.

Stefanus menilai lahan tersebut dipakai karena memudahkan akses bagi warga masyarakat mengambil benih persemaian.

Keberatan warga atas proyek persemaian modern itu pun sampai ke telinga anggota dewan di Senayan, Jakarta. Anggota Fraksi PDI-P dari dapil NTT turut mempertanyakan kebijakan Kementerian Kehutanan dan Lingkungan Hidup tersebut.

“Proyek KLHK tersebut harus dipertanyakan. Pasalnya, berbagai jenis pohon endemik dengan usia yang tidak muda harus dikorbankan,” ungkap Ansy Lema kepada wartawan di Jakarta.

Ia mengatakan sangat tidak tepat membangun pariwisata impor dengan menanam bunga atau pohon yang didatangkan dari luar kota Labuan Bajo demi tujuan mempercantik kota itu.  Lantaran dari perspektif ekologis sangat membahayakan.

Ansy Lema menyayangkan pemilihan lokasi persemaian yang sangat dekat dengan sumber mata air dan hutan Bowosie yang merupakan satu-satunya harapan warga masyarakat Labuan Bajo. Ia meminta agar proyek tersebut ditinjau ulang dan memperhatikan kepentingan warga setempat.

Dalam rencana yang telah dibuat, lahan tersebut akan memproduksi benih sebanyak 5 juta pohon per tahun, sesuai target yang telah dicanangkan presiden. Adapun benih yang ada di persemaian modern tersebut berasal dari semua jenis pohon, termasuk jenis tanaman perkebunan yang akan dikembangkan di sana. ***



TAGS : hutan bowosie manggarai barat ntt kementerian kehutanan dan lingkungan hidup ansy lema dpr ri labuan bajo

Baca Juga :

Related Post