Mendorong Praktik Pancasila dalam Kurikulum Pendidikan

Editor | Senin, 03/Mei/2021 19:59 WIB
Foto: BPIP`s Zoom

Keputusan kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan  Teknologi merevisi PP 57 tentang Standar Nasional Pendidikan disambut gembira banyak kalangan. Sebelumnya PP ini dipersoalkan karena tidak tidak memuat pendidikan Pancasila sebagai pelajaran wajib bagi siswa pendidikan dasar dan menengah serta mahasiswa pendidikan tinggi.


Dalam diskusi yang diselenggarakan Gen Indonesia hari ini (3/5/2021),  sejumlah tokoh dan pemerhati pendidikan menyorot pentingnya praktik Pancasila dalam kurikulum, sehingga Pancasila tidak sekadar hafalan. Acara dipandu oleh Fristian Griec Sekjen Gen Indonesia dan Host Forum Fristian TVRI. 

Dewan Pengarah Badan Pembinaan Ideologi Pancasila, Rikard Bagun mengatakan pendidikan penting dan strategis, karena itu pancasila harus masuk dalam kurikulum pendidikan dasar sampai tinggi. “Kurikulum Pancasila penting untuk membentuk karakter bangsa, pada saat yang sama menjaga kemanusiaan dan ke-Indonesiaan,” tegas Rikard Bagun. Ia juga mengingatkan nilai-nilai Pancasila ini juga penting dipraktikan di media sosial yang saat ini banyak menyebarkan hoax dan ujaran kebencian. Rikard mengingatkan Pancasila sebagai ideologi juga harus dipraktekan, karena tanpa dipraktekan ideologi akan kehilangan makna. 


Sekjen Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama, Mufarrihul Hazin, mengingatkan pendidikan Pancacila jadi kurikulum jangan seperti Pendidikan Moral Pancasila yang pada masa lalu dijadikan tempat doktrinasi. Saat ini yang dibutuhkan adalah dialog dan bukan indoktrinasi. 


Koordinator Program Pelatihan  Cahaya Guru, Komar Kasman mengingangatkan pendidikan keragaman bagian penting dalam pendidikan pancasila, terlebih di sekolah negeri yang dibiayai APBN. Ia menyebut Yayasan Cahaya Guru mengajarkan tentang Keragaman, kebangsaan, dan ke-Indonesiaan. 


Staf Khusus Presiden Agkie Yudistia menegaskan pendidikan Pancasila harus aplikatif dalam kehidupan sehari-hari, dan bukan sekadar hafalan. Selain itu ia menekankan pentingnya membumikan Pancasila dalam bentuk membangun role model di media sosial. Ia menyebut perlu menyesuaikan kurikulum sesuai dengan karakter generasinya. 

Kepala Balitbang dan Perbukuan Kemendikbud- Ristek Anindito Aditomo menyatakan  pendidikan Pancasila sangat penting bagi peserta didik. Jika tidak ada bisa fatal dan mengancam disintegrasi bangsa.


DPR akan bahas revisi PP 57 bersama Kemendikbud Ristek

Anggota Komisi Pendidikan DPR dari Fraksi Partai Golkar Hetifah Sjaifudian mengatakan DPR akan membahas segera soal PP Standar Nasional Pendidikan 57 tahun 2021. “Komisi X berharap kementerian Pendidikan, Kebidaan, dan Ristek segera mengajukan draf revisi PP 57 dan harus memastikan Pancasila jadi pelajaran wajib bagi anak usia dini hingga perguruan tinggi,” tegas Hetifah. 

Sementara itu anggota Komisi II DPR/ Fraksi Partai Demokrat Anwar Hafid mengusulkan penguatan kelembagaan BPIP agar bisa melakukan pembinaan Pancasila. Menurutnya BPIP perlu diberi kepercayaan melakukan pembinaan Pancasila sampai ke daerah. 


Direktur Pengkajian Materi BPIP, Muhammad Sabri, menegaskan Pancasila harus dibumikan sehingga nilai-nilai Pancasila bisa diterjemahkan ke dalam berbagai aspek kehidupan. 

Sementara Daniel Rudi filmmaker dan perwakilan dari Gen Indonesia menyatakan semua pihak harus sepakat bawah Pancasila merupakan investasi peradaban. Pancasila itu adalah nafas dan darah daging masyarakat Indonesia. Pendidikan harus berbasis pengetahuan budaya nusantara. 

Bincang Kebangsaan ini digelar dalam memeringati hari Pendidikan Nasional  mendorong Pancasila selalu menjadi nafas pendidikan nasional untuk membentuk karakter generasi penerus bangsa.

Acara Bincang Kebangsaan digelar oleh Gen Indonesia dan didukung oleh Badan Pembinaan Ideologi Pancasila. Gen Indonesia adalah perkumpulan para Jurnalis dan Aktivis yang hadir di tengah era disrupsi informasi, turut andil sebagai jembatan komunikasi antar stake holder.  Visi Gen Indonesia adalah  menumbuhkan kesadaran masyarakat yang beragam untuk hidup bersama dengan penuh toleransi.



TAGS :

Baca Juga :

Related Post