Pandemi COVID-19 Membuat Banyak Orang Susah Tidur

Editor | Minggu, 07/Mar/2021 18:10 WIB
Ilustrasi tidur (Freepik)

Jakarta, rknmedia.com - Lebih dari setahun umat manusia telah menjalani hidup dengan pandemi COVID-19. Rutinitas dan gaya hidup yang berubah, kurang gerak, serta kebijakan Work From Home (WFH) membuat banyak orang menjadi susah tidur. Teknologi dan aplikasi pembantu tidur mendadak ramai di pasaran.

Sebuah studi dari Universitas Southampton menunjukkan jumlah orang yang mengalami insomnia meningkat dari satu dari enam menjadi satu dari empat selama pandemi. Perempuan dan anak kecil adalah golongan yang paling sering mengeluh susah tidut. Bahkan muncul istilah coronasomnia.

“Dengan meningkatnya ancaman besar-besaran terhadap kesehatan, situasi sosial-ekonomi, dan kesejahteraan umum kita, akan menjadi aneh jika ada yang bisa tidur nyenyak di malam hari,” kata Darian Leader, penulis Why Can`t We Sleep?, dilansir dari The Guardian.

Masalah tidur yang terus dikeluhkan oleh masyarakat berbanding lurus dengan tingginya permintaan teknologi pembantu tidur. Di Youtube, kita melihat banyak video tutorial bagaimana mengatur pernafasan menjelang tidur agar cepat terlelap. Lalu ada selimut berat yang menekan badan kita. Bahkan ada aplikasi yang dirancang mampu membantu kita relaksasi menjelang tidrur.

Dalam 12 bulan terakhir, penjualan produk pembantu tidur melonjak. Di John Lewis, penjualan sarung bantal sutra meningkat 533%. Di perusahaan selimut berbobot Mela, penjualan naik 250%, sementara di Holland & Barrett penjualan produk dalam kategori tidur dan relaksasi tumbuh lebih dari 30%.

Para pakar memprediksi masalah tidur akan terus melonjak setiap tahunnya. Diperkirakan, pada tahun 2030 pasar alat bantu tidur global meningkat dari 79 miliar dolar menjadi 163 miliar Dolar. Jika Anda mengalami masalah tidur yang serius, tidak ada salahnya berkonsultasi dengan dokter atau mulai melirik produk-produk alat bantu tidur.



TAGS : Covid-19 Susah Tidur WHO

Baca Juga :

Related Post