Aksi Heroik Suster Berlutut di Depan Militer Myanmar, Mohon Pengunjuk Rasa Tak Ditangkap

Editor | Minggu, 07/Mar/2021 17:09 WIB
Kolase foto Suster Ann Nu Thawng tengah berlutut di depan polisi Myanmar. (Tajukflores.com/Twitter Kardinal Charles Bo)

Jakarta, rknmedia.com - Aksi seorang suster Katolik menghentikan pasukan militer Myanmar untuk menyerang pengunjuk rasa viral di media sosial Twitter pada Minggu (28/2).

Dia berlutut dan memohon kepada mereka untuk menahan diri dari melakukan penangkapan dan menggunakan kekerasan.

Aksi heroik suster itu dibagikan akun Twitter Uskup Agung Yangon, Myanmar, Kardinal Charles Maung Bo.

Menurur Kardinal Charles Bo, suster itu bernama Ann Nu Thawng, seorang anggota Misionaris St. Francis Saverio dari Myitkyina.

Kardinal Charles Bo mengatakan bahwa "sekitar 100 pemrotes dapat melarikan diri dari polisi" karena upaya heroik Suster Nu Thawng tersebut.

Kardinal Charles Bo, yang telah mendokumentasikan kudeta dan protes dari akun Twitter-nya sejak awal, mengirim beberapa tweet lain yang menggambarkan situasi di lapangan.

Dalam sebuah postingan, dia disertai dengan foto-foto protes yang mencolok, Kardina Charles Bo menyebut jika peristiwa tersebut bukanlah adegan film, namun sebuah kenyataan yang sedang berlangsung di Myanmar.

“Polisi menggunakan gas air mata untuk memecah massa yang memprotes. Mereka adalah orang-orang muda yang berperang melawan kediktatoran militer yang paling brutal. Orang-orang muda mempertaruhkan nyawa mereka untuk menyelamatkan nyawa orang lain," katanya dalam tweet, sebagaimana ditulis Cruxnow.

Sejak kudeta militer Myanmar dimulai 1 Februari, jalan-jalan di negara itu dipenuhi pengunjuk rasa yang meminta pengangkatan kembali Penasihat Negara mereka, Aung San Suu Kyi, dan partai Liga Nasional untuk Demokrasi miliknya.

Pada 2015, Myanmar, yang sebelumnya disebut Burma, mengadakan pemilihan bebas pertamanya dalam beberapa dekade, menghasilkan kemenangan Suu Kyi.

Banyak yang memuji pemilihannya sebagai langkah luar biasa untuk membangun sistem demokrasi yang kokoh di Myanmar, yang dari 1962-2011 berada di bawah kekuasaan militer.

Militer negara itu membela kudeta Februari, menuduh Suu Kyi dan partainya gagal menyelidiki tuduhan penipuan pemilih dalam pemilihan November 2020 mereka, yang dimenangkan oleh partai NLD secara telak.

Polisi semakin melakukan kekerasan untuk menghentikan pengunjuk rasa, menyebabkan beberapa tewas.
Hari paling berdarah terjadi pada Minggu, ketika sedikitnya 18 orang tewas setelah militer melepaskan tembakan di berbagai daerah Yangon ketika tindakan lain, seperti granat kejut, gas air mata dan penembakan ke udara, gagal membubarkan kerumunan.



TAGS : Suster Katolik Kardina Charles Bo Myanmar Kudeta

Baca Juga :

Related Post